Jalan

Bagaimana harimu? Tinggal beberapa hari lagi kau tiba. Setelah beberapa tahun terakhir kau pergi ke London. Dan yang ku lakukan hanya bisa menunggu, setelah keberangkatanmu tanpa sebuah pamit. Aku menunggu di tempat terakhir kita bertemu. Di sebuah jalan di pinggiran kota.

Entah kenapa, aku merasa akhir-akhir ini sangat melelahkan. Ketika dedaunan berubah warna di jalan Jendral Sudirman. Waktu itu, ketika aku kembali berani menangkat kepala. Saat pertama kau menghampiriku, dan berhasil menemukan ruang di hati.

Kita seharusnya tersenyum cerah saat kepergianmu kala itu. Tapi sekarang, aku merasa asing denganmu. Aku tak tahu harus berbuat apa saat kau kembali menemuiku di jalan ini lagi.

“Dalam pelukanmu, disanalah duniaku” katamu saat sebelum pergi ke London.

Hari ini, aku seperti orang bodoh. Duduk sendirian di tempat pertama dan terakhir kita bertemu. Memberikan tubuh ini basah di bawah hujan. Menunggu kau yang pasti tak akan datang. Tapi aku bahagia, ketika mengingat kenangan kita yang berjalan sambil berpegangan tangan. Berharap kau berdiri disana.

Aku baru tahu jika ternyata arti hidup ini untuk selalu menemukan orang baru; menemukan hal baru. Ketika aku duduk di jalan ini, seketika aroma tubuhmu menyambutku. Dan saat itulah aku berani untuk tersenyum. Kau adalah orang yang membuatku gugup. Hanya kau seorang. Kau yang terlihat cantik dibanding dengan bunga di seberang jalan itu. Tapi kenapa kau meninggalkanku?

Disini, akhirnya aku sadar. Ternyata aku yang selama ini berubah. Tanpa alasan. Aku berhenti menunggumu, hanya sehari saja waktu itu. Tapi ternyata itu membuat segalanya berubah. Sekali lagi, aku kembali ke jalan Jendral Sudirman. Jalan dimana aku kembali menangkat kepala karena hadirmu. Kembali tersenyum. Dan juga kembali menangis. Berharap kau berdiri disana, hari ini. Dan aku harap tanpa ada air mata; lagi.

Aku akan menjadi jalan raya. Agar kau tahu jalan mana untuk menuju bahagia. Namun jika kau ingin sebuah duka. Maaf aku tidak tahu jalannya. Karena wajahmu bukan untuk air mata.

— Satrio Wicaksono

Advertisements

Hanya Imajinasi

Rasanya jenuh sekali di dalam kelas saat itu. Bingung harus berbuat apa. Biasanya sih dengerin musik. Tapi entah kenapa musik pun tak bisa menghilangkan jenuhku.

Aku membuka tas ku. Dan ternyata di dalam nya terdapat novel Dilan 1990. Akhir-akhir ini aku sering membawa novel untuk mengisi waktu luangku agar tidak jenuh. Aku membaca novel itu. Aku tertawa membaca bagian saat Dilan mengajarkan bibi menjadi bencong, mengatakan Milea suka makan lumba lumba. Bagian ini membuat ku tertawa hingga teman di dekatku bingung kenapa aku tertawa sendiri.

“Kamu kenapa Sat ketawa
sendiri?” Tanya teman ku
“Gak papa kok Dew.” Jawabku sambil tersenyum
“Kamu baca apaan Sat, coba aku lihat.” Lanjut Dewi
“Ini baca Dilan 1990.”

Aku sudah selsai membaca, kemudian salah satu temanku yang lain meminjamnya.

Suatu hari kami sedang chatingan di WhatsApp. Setelah panjang lebar chat itu aku hanya membalas “hahahaha”.
“Ketawa mu bagus” balasnya.

Aku mulai mengerti. Sepertinya dia sudah selsai baca novelku. Aku dan dia seolah jadi Milea dan Dilan abal-abal.

“Kamu jangan ketawa. Nanti lelaki disana itu suka padamu.” Ucapku.
“Cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri. Dan sekarang aku sedang tidak percaya diri.” Sanggahnya.
” Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.” Lanjutnya.

Aku dan dia terus melakukan percakapan seperti yang ada di dalam novel itu.Tak lama setelah itu dia mengadu kepada ku.

“Ada yang menggangguku.” Tulisnya saat itu.
“Bilang ke aku siapa yang mengganggu mu. Besoknya dia sudah tiada.” Jawabku.

Dalam hatiku berkata “Terimakasih sudah mau melakukan percakapan yang hanya imaji. Walau chat itu nyata. Tapi kenyataannya itu hanya imajinasi kita saja. Tapi aku bahagia.”

Aku dan dia memutuskan untuk mengakhiri chat kami. Karena hari sudah larut. Tapi sebelum itu dia bilang padaku “Lia tidur dulu. Sudah malam.” Ucapnya
“Kalau tidur jangan ingat aku. Tapi kalau mau silahkan.” Jawabku
“Selamat tidur Milea. Mileaku. Aku rindu.” Lanjutku.
“Selamat tidur Dilanku. Sanggahnya.

Dan imajinasi kami pun berakhir. Setidaknya malam itu aku merasa paling bahagia.

— Satrio Wicaksono

Note: biasanya kalau aku nulis cerita ini, Dia auto jadi Milea terus chat aku gini “Dilan. Aku rindu.”

Hujan Deras

Belajar di negara yang merupakan tempat terbaik untuk menempuh pendidikan adalah suatu hal yang menjadi mimpi semua orang. Hari ini Puspita sangat bahagia, karna dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S3 ke Finlandia.

Sebelumnya Puspita hanya bisa bermimpi untuk belajar di negara tersebut. Tapi kini mimpi itu terwujud. Dia mendapatkan kesempatan yang selama ini tidak di dapat orang lain. Finlandia adalah negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, tempat terbaik untuk menempuh pendidikan menurut Puspita.

“Faher, kamu dimana? Aku mau kasih tau kamu sesuatu” Puspita mengirim pesan itu melalui WhatsApp. Tak lama kemudian kekasihnya itu sudah ada di belakangnya.

“Hey, mau kasih tau apa sih mpus, aku dari tadi di sini. Ada di dekatmu.”
“Lihat nih, aku dapet beasiswa ke Finlandia.”

Faher terdiam. Dia tidak tau harus sedih atau bahagia. Di satu sisi Faher bahagia karna kekasihnya itu bisa melanjutkan studi S3 nya. Namun, disisi lain Faher sedih karena dia tidak bisa jauh dari kekasihnya itu.

“Dua hari lagi aku akan berangkat ke Finlandia.”

Faher dibuat gelagapan dengan kata-kata itu. Dia terkejut karena kekasihnya itu akan pergi meninggalkannya 2 hari kedepan.

“Jadi kamu tinggal 2 hari lagi dong di Indonesia.” Ucap faher lirih.
“Hey, jangan sedih dong. Aku gak lama kok di Finlandia, jangan sedih gitu. Nanti aku juga ikut sedih.”
“Aku gak sedih mpus, tapi aku gak tau harus gimana. Kita cuma punya waktu 2 hari lagi sebelum kamu terbang ke Finlandia. Aku tidak tau harus berbuat apa sekarang.”
“Kita ke pantai aja. Menikmati senja sebelum aku terbang jauh kesana. Supaya nanti jika kamu rindu mpus, kamu bisa dateng kesini. Bayangin kalo kamu lagi sama mpus disini. Tapi jangan sama cewek lain dateng nya.”
“Ya enggak lah. Cukup mpus aja kok. Gak ada cewek lain. Tenang aja. Kamu juga disana kalo rindu sama aku, kamu liat senja ya. Biar kita sama-sama melihat senja yang sama. Tapi jangan sama cowok lain juga.”
“Siap ndan(sambil hormat).”

Setelah itu mereka pergi ke sebuah tempat yang menyuguhkan pemandangan yang sangat indah, tempat dimana senja yang mereka cari muncul.

Mereka berdua seperti sedang berada di sebuah pesta pernikahan, dimana ada sebuah meja panjang yang berisi makanan dan para tamu undangan dipersilahkan mengambil makanan tersebut. Mereka berdua seperti sedang menikmati sebuah hidangan pemandangan sangat luar biasa yang disediakan oleh sang pencipta.

“Kamu masih mau rusak alam ini mpus?” Tanya faher.
“Ya enggak lah, mpus gak mau menghancurkan ini semua. Mpus cuma bisa menjaganya aja”
“Berarti nanti di Finlandia mpus tau dong harus ngapain.”
“Mpus harus apa?”
“Malah tanya balik. Nanti disana rindu mpus harus kayak semesta ini. Mpus harus menjaganya, bukan merusaknya.”

Puspita tersenyum bahagia dan menyetujui perkataan Faher. Tiba-tiba hujan turun setelah senja pergi meninggalkan mereka berdua. Hujan turun sangat deras hari ini. Padahal sebelumnya langit terlihat baik-baik saja.

“Sayang pulang aja yuk. Mpus pengen ujan-ujanan bareng kamu.”
“Emmmm, tapi kamu pake jaket aku ya.”
“Gak mau. Mpus gak mau kamu kedinginan. Kamu basah dan kedinginan, mpus pun harus begitu. Masukin aja jaketnya ke jok motor.”
“Tapi nanti kamu sakit mpus.”
“Gak ada tapi-tapian. Udah ayo berangkat.”

Faher pun setuju. Dia tidak bisa menolak jika Puspita sudah begitu. Mereka berdua pergi melawan hujam deras yang datang. Puspita memeluk erat kekasihnya itu. Tidak ada satu katapun yang terucap. Mereka hanya menikmati hujan terakhir sebelum Puspita pergi ke Finlandia.

Hari ini Puspita akan terbang ke Finlandia. Puspita pergi menuju bandara bersama keluarganya dan juga Faher. Langit hari ini seperti tidak setuju melihat kepergian Puspita. Sama seperti Faher, rasanya berat sekali melepas kekasihnya itu. Di perjalanan menuju bandara, semuanya terdiam. Puspita sedang memeluk ibunya, ayahnya mengendarai mobil, dan Faher sedang melihat keluar jendela, mencoba terlihat tegar seolah sedang tidak terjadi apa-apa.

“Yuk semuanya kita turun, sudah sampai nih.” Ucap ayah.
“Mpus bangun, kita sudah sampai.” Ucap ibu.

Mereka semua turun. Mereka memasuki area bandara.
“Ayah sama ibu sampai disini aja ya nak. Nanti biar Faher yang antar kamu ke dalam. Ayah tidak sanggup melepasmu.”
“Ayah jangan gitu dong. Ayah sama ibu harus bisa. Cuma sebentar kok yah. Jangan lupa doakan putri kecil ayah ini.” Puspita memeluk kedua orangtuanya.
“Sudah sana, pesawatmu sudah mau berangkat.” Ucap ibu.

“Kamu baik-baik di Indonesia. Mpus titip ayah sama ibu, mpus titip hati di kamu, kamu jangan lupa segalanya. Cuma 2 tahun kok. Jaga rindu mpus baik-baik.”
Faher tidak tau harus berkata apa. Kata-kata itu sudah ada di ujung lidah, namun sulit untuk mengeluarkannya. Dia hanya bisa memeluk kekasihnya itu.

” mpus disana jangan lupa solat ya. Kalo makan gak usah nunggu aku ingetin. Waktunya makan mpus harus makan. Jangan sampe sakit. Karna kalo kamu sakit, di sana gak ada aku yang jagain kamu, gak ada ayah ibu yang ngerawat kamu, jangan bikin orangtuamu khawatir, buat mereka berdua bangga. Mpus jaga diri disana, jaga mata, jaga hati aku disana. Nanti kalau sudah sampai, kabarin aku. Jangan lupa kabarin ayah ibu juga. Aku akan berdiri disni lagi untuk menjemputmu nanti.” Akhirnya Faher mengucapkan sesuatu dengan airmata mengalir di pipinya.
“Jangan nangis dong, mpus ikut sedih nih.”
“Iya enggak kok.”
“Senyum dong.” Puspita kembali memeluk Faher. Itu pelukan terakhir Puspita. Dan akhirnya Puspita pun meninggalkan Faher dan kedua orangtuanya.

Setelah kepergian Puspita ke Finlandia, hari-hari Faher terasa ada yang berbeda, seperti Nasi goreng tanpa garam.

Saat di perjalanan, Faher teringat saat terakhir mereka melihat senja sebelum keberangkatan Puspita.
“Kamu jangan cari pacar lagi ya nanti kalo mpus udah berangkat.”
“Iya enggak kok mpus. Aku kan rumah untuk kamu. Tempat dimana rindu itu pulang. Tempat dimana mpus bisa berbagi suka maupun duka. Mpus juga disana jangan cari pacar lagi loh. Awas aja.”
“Iya enggak kok. Mpus mah cukup Faher aja. Mpus gak pergi ninggalin Faher loh. Mpus cuma mau belajar lagi. Kan yang pergi cuma orangnya, cinta mpus tetep sama Faher kok, hati mpus pun tetep sama Faher. Jadi mpus mau Faher jaga itu semua.”
“Siap ndan.”ucap Faher.

Di perjalanan menuju ke rumah, tiba-tiba hujan turun sangat deras. Seperti suasana hati Faher saat ini, semesta seperti tau apa yang Faher rasakan. Ada rasa bangga saat melihat seseorang yang sangat Faher sayangi melanjutkan studi nya. Namun disisi lain Faher takut terjadi apa-apa dengan Puspita disana. Langit pun ikut menangis melihat kepergian Puspita.

” Faher, mpus udah di Finlandia nih. Negara nya indah banget. Tapi mpus tetep cinta Indonesia kok. Apalagi sama orang yang ada di Indonesia, hehehe.”
“Alhamdulillah, kasih kabar ke ayah sama ibu. Mpus istirahat. jangan lupa makan. Dan jangan rindu.”
“Loh kenapa gak boleh rindu.?”
“Daripada mpus bilang rindu terus, ataupun aku bilang rindu ke mpus. Itu cuma bikin kita gak konsen. Lebih baik kita langsung bertemu. Bosan jika terus berbicara tentang rindu.”
“Siap bosku. Tunggu mpus pulang ya.”
“Siap mpus.”

(Selesai)


Menunggu memang tidak selalu menyenangkan. Namun, jika kita bisa bersabar maka hal indah akan menghampiri. Ingat, apa yang kau tanam, itulah yang akan kau petik nantinya.
.
.
– Satrio Wicaksono

Senja


Lagi. Untuk kesekian kalinya semesta menghadirkan sesuatu yang sangat indah. Keindahan itu bernama senja. Tempat dimana aku bisa menerjemahkan warna. Tempat dimana aku menunggu datangnya malam.

Lagi. Untuk kesekian kalinya, senja hari ini telah membuatku tak tahu harus berbuat apa. Rasanya senja hari ini terlalu indah untuk diabadikan dengan kamera. Setiap moment yang aku nikmati bersama senja hanya cukup diabadikan dengan hati saja.

“Kau mau pergi kemana?” Tanyaku pada senja. Dia tidak menjawabnya. Dia tetap pergi meninggalkanku sendiri.
“Lalu, mau sampai kapan kau berdiam diri disitu? Apa mau mu?” Senja bertanya padaku.
“Aku tak tahu sampai kapan. Yang pasti saat ini aku hanya ingin menikmati keindahan yang di sediakan oleh pemilik semesta ini. Apakah salah jika itu yang ku inginkan.?”
“Jika benar itu yang kau inginkan, mengapa kau tidak kembali ke rumah saja. Aku mau pergi.”
“Tunggu. Kau jangan pergi dulu. Biarkan aku melihatmu sebentar lagi. Setelah itu aku akan pulang dan menunggu datangnya malam. Karena tujuan ku disini sebenarnya hanya ingin menunggu malam.”

Akhirnya malam pun tiba. Kemudian malam bertanya kepadaku.
“Untuk apa kau menungguku?”
“Aku hanya ingin tahu. Apakah saat kau datang, adakah aku yang paling bersinar dihatinya. Jadi, apakah salah jika aku menunggumu wahai malam?”
“Tidak. Tidak ada yang salah. Tanpa kau menungguku, aku pun akan tetap datang untuk menggantikan tugas senja. Apakah kau sudah dapat jawabannya.?”
“Sudah. Ternyata, bukan aku yang paling bersinar. Aku hanyalah sebuah pohon tanpa sinar matahari. Terus tumbuh. Namun, pohon itu kekurangan klorofil dan tidak bisa melakukan fotosintesis.” Malam pun tidak mampu berkata-kata lagi. Dia hanya diam dan menjalankan tugasnya.

Terimakasih malam sudah menunjukkan siapa yang paling bersinar dihatinya. Aku hanya berharap, kau tetap menjaga tidurnya. Buatlah dia tidur dengan nyenyak. Selamat malam 🙂

– Satrio Wicaksono
29/05/2018

Gita Cinta : “Mekar Bersemi Untaian Kasih, Jumpa Cinta Pertama”


Mungkin dia bukan cinta pertamaku. Karna aku tak tau siapa cinta pertamaku sesungguhnya. Namun, saat aku bertemu dengannya rasanya aneh sekali. Seperti tidak ingin berpisah dengannya. Ingin selalu ada di dekatnya. Dia itu seperti bunga melati yang masih berbentuk kuncup. Aku ingin menjaga kuncup itu. Namun, ternyata bukan hanya aku yang ingin menjaganya. Aku memiliki banyak saingan, aku pikir hanya aku yang ingin memiliki kuncup itu. Hingga tiba saat dimana kuncup melati itu mekar. Aku ingin segera memetik melati itu. Namun aku tak kuasa. Melati itu terlalu indah untukku. Warnanya yang putih dan bersih, tumbuh diantara semak belukar yang penuh duri. Melati itu menebarkan harum yang menjadi sebuah tanda. Tanda untuk siapapun yang memilikinya harus menghayati cinta melati itu sepanjang waktu.

Kini entah siapa pemilik melati itu, aku tidak tahu harus berbuat apa ketika melihatnya. Yang aku tahu, kini melati yang dulunya masih berbentuk kuncup itu, kini sudah berubah menjadi melati yang putih dan bersih. Dan lagi, sainganku bertambah tentunya. Aku tidak peduli dengan sainganku itu. Yang pasti aku sangat bahagia ketika melihat melatiku itu tersenyum. Tunggu melatiku. Tunggu aku menjemputmu.

Satrio Wicaksono

26/05/2018

Bahagia Itu Sederhana


Sore tadi memutuskan untuk pergi ke kosan temanku, Surya. Niat awal sih ingin mengerjakan tugas, namun saat aku tiba di kosan ternyata surya pergi. Ya ini memang salahku, aku tidak bertanya terlebih dahulu dia di kosan atau tidak.

Aku memutuskan untuk pulang saja. Di perjalanan, aku bingung harus berbuat apa. Deadline tugas tinggal 2 hari lagi, sedangkan aku baru menyelesaikan sepuluh persen saja. Aku memilih untuk menenangkan fikirian. Sejenak melupakan tugas yang tinggal 2 hari lagi itu. Aku memilih untuk mencari inspirasi untuk tulisanku disini. Ya ditempat ini. Tempatnya biasa aja sih, tapi entah kenapa aku suka disini. Dan yang membuat aku lebih suka, ada penjual Es Dawet lagi disini. Mencari inspirasi sambil menikmati segelas minuman yang tidak akan ditemui di cafe-cafe.

“Biasanya berdua mas?”
Aku terkejut ketika penjual itu bertanya padaku.
“Kemana pacarnya, biasanya kalo sore ada disini berdua.?”
“Pacar? Bukan om. Aku masih jomblo. Dia bukan pacarku, dia sudah milik orang lain. Tapi, om tau darimana kalo aku sering disini.?”
“Ya saya sering liat kamu disini, ya walaupun seringnya liat kamu sendirian, nah waktu itu saya liat kamu berdua. Saya kira itu pacar kamu, kamu dulu bawa motor b**t kan.?”
“Iya om. Tapi itu bukan pacarku kok. Cuman temen aja. Lagian dia pacar orang.”

Tiba-tiba hujan turun. Aku tidak mengerti mengapa langit menangis. Padahal hari ini langit baik-baik saja, tapi mengapa dia menangis? Aku tak tahu mengapa. Tapi yang pasti ini membuatku terjebak, aku berteduh di bawah payung milik penjual es dawet itu. Untung saja payungnya besar. Hari ini langit seperti seseorang yang mencari sebuah kebahagiaan, seperti aku. Hari ini hujan, namun langit tetap saja cerah. Seperti seseorang yang sedang tersenyum namun hatinya sedang menangis pilu.

“Hujan – hujan kok minum es mas?”
“Lah om kenapa hujan – hujan jualan es.?”
“Tadi kan panas, makanya saya jualan.”
“Sama om. Tadi kan panas, aku pengen minum es aja.”

Aku ingin tertawa mendengar pertanyaan itu. Tapi sudahlah, setidaknya aku keluar rumah tidak begitu sia-sia. Yang tadinya mau mengerjakan tugas, namun akhirnya malah ngobrol dengan penjual es.

– Satrio Wicaksono

Gita Cinta : ” Kini Ku Cari Celah Bahagia, Di Atas Jalan Nan Penuh Duri. “


Aku pernah mencoba memalingkan hatiku dari melati. Bukan karna aku benci dengan melatiku itu. Tidak. Bukan begitu maksudku. Aku hanya sedang mencoba terbiasa tanpa melatiku, jika suatu saat melatiku jatuh ke hati orang lain. Aku coba menaruh hatiku pada seseorang yang baru. Tapi ternyata aku tidak bisa. Selalu saja melati yang melintas di pikiranku.

Aku coba membiasakan diri dengan orang baru itu. Sebut saja cempaka. Aku dulu pernah mencoba untuk mendekati cempaka, namun saat aku mengetahui jika cempaka telah memiliki kekasih, aku memutuskan untuk berhenti mendekatinya.

Beberapa bulan kemudian cempaka kembali hadir dalam hari-hariku. Aku tidak mengerti kenapa cempaka kembali lagi. Bukankah dia sudah mempunyai kekasih?. Cempaka hadir seperti memberikan sebuah isyarat bahwa aku harus menjadi kekasihnya, aku memilih untuk tidak menjalin kasih dengannya. Karna yang aku tahu, cempaka belum mengakhiri hubungan dengan kekasihnya. Meski dia berkata bahwa dia sudah putus dengan kekasihnya itu. Aku tidak bisa percaya begitu saja. Aku tetap menjalani hariku dengan cempaka. Menikmati senja bersama, menikmati dingin hujan bersama. Sampai akhirnya aku tahu kebenarannya. Semesta telah memberi sebuah isyarat. Semsta seperti menolak jika aku terus bersama cempaka. Karna semesta tahu, jika aku terus bersama cempaka akan ada seseorang yang terluka. Semesta memberi tahu kebenarannya, ternyata cempaka masih menemui kekasihnya itu. Apakah hatiku terluka? Tentu saja. Entah mengapa aku merasa sangat terluka akan hal itu. Padahal aku bukan siapa-siapanya. Apakah aku telah jatuh hati pada cempaka? Semoga saja tidak. Karna aku sudah menaruh hatiku pada melati. Tapi mengapa aku nerasa sangat terlukai akan hal itu?

Kini aku memulai hariku tanpa cempaka, meski terkadang dia masih mencoba untuk menghubungiku. Aku mengabaikan pesan yang ia kirim untukku. Bukan karna aku sombong. Aku hanya tidak ingin membuat orang lain terluka, yaitu kekasih cempaka jika aku membalas pesannya. Lagi pula, aku sedang mencari kebahagiaan di sebuah jalan yang penuh dengan duri. Sebab luka yang ada membuat aku tidak tahu untuk siapa hatiku sebenarnya. Apakah memang melati tujuan hatiku berlabuh? Jika iya, aku akan sangat bahagia. Jika pun bukan melati, aku akan tetap bahagia jika aku melihat melati bahagia dengan orang lain. Yang pasti, aku sedang mencoba untuk tidak terlihat seperti orang yang sedang terluka.

– Satrio Wicaksono

26/05/2018